informasi pendaftaran pendidikan Al Madinah Lengkap

spanduk psb pondok genjeng 2014

Batasan anak kecil melihat aurot “besar” orang tuanya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pertanyaan: Kapan usia terakhir anak saya dapat melihat aurat besar saya? Karena kadang anak saya yang masih batita saya ajak mandi bersama.

Jawaban:

Pertama: Batasan aurat wanita di depan mahramnya, sesama wanita dan anak kecil yang belum mengerti aurat wanita adalah sebatas tempat-tempat perhiasannya, yaitu kaki sampai bawah betis (tempat perhiasan gelang kaki), tangan sampai lengan (tempat perhiasan cincin dan gelang lengan) dan kepala sampai leher (tempat perhiasan anting dan kalung). Hal ini dipahami dari firman Allah ta’ala,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

Kedua: Maka tidak dibenarkan walaupun anak kecil untuk diajak mandi bersama orang tuanya dalam keadaan membuka aurat seluruhnya, dan tidak mengapa insya Allah ta’ala jika tanpa terlihat aurat seluruhnya kecuali sebatas tempat-tempat perhiasan, dengan syarat anak tersebut belum mengerti aurat wanita. Jadi, tidak ada batasan umur tertentu di sini, yang menjadi ukuran adalah apakah si anak sudah mengerti aurat atau belum.

Ketiga: Bolehnya seorang wanita membuka aurat sebatas tempat perhiasan di depan mahram, sesama wanita dan anak-anak yang belum mengerti aurat wanita; dengan syarat aman dari fitnah. Jika dapat menimbulkan fitnah seperti mahramnya fasik dan mungkin mengajaknya melakukan kefasikan, atau yang melihat auratnya akan menceritakan kecantikannya kepada laki-laki yang bukan mahramnya, maka tidak dibolehkan untuk ditampakkan.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

diambil dari website ustadz Abu Abdillah Shofyan Chalid bin Idham Ruray
www.sofyanruray.info

Bolehkah menerima pemberian atau pinjaman dari harta yang haram?

Hukum-menerima-pemberian-dari-harta-haram
Pertanyaan:

Apakah boleh menerima uang pinjaman (tanpa bunga) atau pemberian/hibah dari teman untuk modal usaha kita, sementara uang tersebut dia peroleh dari pinjaman bank?

Jawaban:

Harta haram terbagi dua[1]:

Pertama, haram pada dzat dan asalnya. Yaitu, harta yang memang asalnya adalah haram, seperti anjing, babi, atau berkaitan dengan kepemilikan orang lain, seperti barang curian dan hasil rampokan.

Pada harta seperti ini, para ulama bersepakat bahwa tidak boleh diterima berdasarkan keharaman dalam dzat harta tersebut dan karena keberkaitan dengan kepemilikan orang lain. Kesepakatan ulama tentang ketidakbolehan ini telah dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dan selainnya[2].

Kedua, haram karena sifatnya atau sebab dalam mendapatkannya. Yaitu, harta yang didapatkan dengan cara haram, seperti hasil riba atau hasil judi.

Pada harta yang seperti ini, terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah boleh diambil, tetapi dengan mengingat bahwa sebagian ulama menganggap bahwa harta yang lebih didominasi oleh hal haram adalah lebih wara’ untuk ditinggalkan.

Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga yang memakan riba secara terang-terangan, tetapi tidak merasa bersalah dengan harta yang buruk, lalu si tetangga itu mengajaknya dalam undangan makan. Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu pun menjawab, “Penuhilah undangannya. Kenikmatan (makanan) adalah untuk kalian, tetapi dosanya adalah terhadap dia.” Dalam sebuah riwayat, si penanya berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu apapun yang menjadi miliknya, kecuali hal yang buruk atau hal yang haram,” tetapi Ibnu Mas’ûd tetap menjawab, “Penuhilah undangannya.”[3]

Imam Az-Zuhry dan Imam Makhûl berkata, “Tidaklah mengapa makan berupa (harta haram) selama tidak diketahui keharaman pada dzatnya.” Yang semisal dengan itu diriwayatkan pula dari Al-Fudhail bin ‘Iyâdh.[4]

Dalam hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, terdapat beberapa hadits yang menjelaskan bahwa beliau memakan berupa makanan orang-orang Yahudi dan bertansaksi dengan mereka, padahal orang-orang Yahudi telah diketahui, dalam uraian Al-Qur`an, bahwa mereka memakan riba dan harta haram. Di antara hadits-hadits tersebut adalah,

1. Hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Beliau bertutur,

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا…

“Sesungguhnya seorang perempuan Yahudi mendatangkan (daging) kambing, yang telah diracuni, kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memakan (daging) itu ….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

2. Hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Beliau berkata,

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara baji besi beliau tergadai di sisi seorang Yahudi dengan harga tiga puluh shâ’ jelay.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Berikut beberapa fatwa dari ulama kita seputar masalah yang ditanyakan. Di antaranya:

Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh, ditanya,

“Apakah Saya boleh meminjam (sesuatu) dari seorang yang perdagangannya dikenal dengan hal yang haram dan dia mengambil hal yang haram?”

Beliau menjawab,

“Engkau –wahai saudaraku- tidak pantas meminjam dari orang ini atau bermuamalah dengannya sepanjang (seluruh) muamalahnya adalah hal yang haram dan dikenal dengan muamalah riba yang diharamkan, atau selainnya. Maka, engkau tidak boleh bermuamalah dengannya tidak pula meminjam darinya, tetapi engkau wajib berbersih dan menjauh dari hal tersebut. namun, kalau dia bermu’amalah dengan hal yang haram, (tetapi) juga dengan hal yang selain haram, yakni bahwa muamalahnya ada terlihat yang baik, tetapi ada pula yang buruk, tidaklah mengapa (engkau bermuamalah), tetapi meninggalkan hal itu adalah lebih afdhal berdasarkan sabda (Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

“Tinggalkanlah segala sesuatu yang meragukanmu (menuju) kepada hal-hal yang tidak meragukanmu,”[5]

Juga berdasarkan sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

مَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

“Barangsiapa yang menjaga dirinya terhadap syubhat, sungguh dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya,”[6]

Juga berdasarkan sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

الْإِثْمُ مَا حَاك فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Dosa adalah apa-apa yang bergejolak dalam dirimu, sedang engkau benci bila manusia mengetahuinya.”[7]

Jadi, seorang mukmin menjauhi hal-hal syubhat.

Apabila engkau mengetahui bahwa seluruh muamalahnya adalah haram atau dia berdagang dalam hal yang diharamkan, yang seperti ini tidak dilakukan muamalah dengannya, tidak pula boleh diambil pinjaman darinya.”

[Fatâwâ Islâmiyah 2/416]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh ditanya,

“Seorang lelaki mengetahui bahwa sumber harta-harta ayahnya adalah berasal dari hal yang haram. Apakah dia boleh makan dari makanan ayahnya? Jika dia tidak makan dari makanan ayahnya, apakah hal tersebut merupakan kedurhakaan?”

Beliau menjawab,

“Orang yang mengetahui bahwa harta ayahnya adalah berasal dari hal yang haram, apabila (harta itu) haram pada dzatnya, yakni dia mengetahui bahwa ayahnya mencuri harta ini dari seseorang, dia tidak boleh memakan (harta) tersebut. Andaikata engkau mengetahui bahwa ayahmu mencuri dan menyembelih kambing ini, janganlah engkau memakan (kambing) tersebut dan janganlah engkau mematuhi undangannya. Adapun apabila (harta itu) adalah haram karena cara menghasilkannya, yakni dia melakukan riba, muamalah dengan menipu oleh (ayahmu), dalil untuk hal ini adalah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam makan dari harta orang-orang Yahudi, padahal mereka dikenal mengambil riba dan memakan yang haram. (Juga bahwa) seorang perempuan Yahudi di Khaibar telah menghadiahkan (daging) kambing beracun kepada beliau agar beliau mati, tetapi Allah menjaga beliau hingga waktu yang telah ditentukan. (Juga bahwa) seorang Yahudi telah mengundang beliau untuk (memakan) roti dari jelay dan minyak yang baunya sudah berubah maka beliau memenuhi undangan dan memakan (roti) itu.

Beliau juga telah membeli makanan untuk keluarganya dari seorang Yahudi. Beliau dan keluarganya memakan (makanan) tersebut. Hendaknya (si penanya tetap) makan, dan dosa (ditanggung) oleh ayahnya.

[Liqâ Al-Bâb Al-Maftûh no. 188]

Syaikh Muqbil rahimahullâh ditanya,

“Apakah (boleh) menerima hadiah dari orang yang bekerja dalam hal yang haram, atau menyumbang untuk pembangunan masjid atau untuk amalan-amalan kebaikan lainnya?”

Beliau menjawab,

“Sikap wara’ (berhati-hati) dalam hal tersebut adalah tidak diterima, walaupun sebenarnya dosa (ditanggung) oleh pelakunya secara langsung sebagaimana yang telah berlalu. Kami mengatakan bahwa dosa (ditanggung) oleh pelakunya secara langsung karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bermuamalah bersama orang-orang Yahudi, padahal mereka bermuamalah secara riba. Kadang mereka mengundang Nabi n lalu beliau memenuhi undangan mereka, padahal mereka bermuamalah secara riba.”

[Tuhfatul Mujîb hal. 57-58]

Syaikh Muhammad Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh ditanya,

“Seseorang menghadiahkan -misalnya makanan- kepada kami, padahal orang itu bekerja dengan pekerjaan yang halal dan haram. Apakah (Kami) boleh makan dari hadiah ini? Jika ke rumahnya, apakah (Kami) boleh memakan makanannya, sedang orang itu diharapkan kebaikannya?

Beliau menjawab,

Pertama, yang menjadi ukuran adalah pekerjaan halal atau haram yang mendominasi pada orang ini. Maka, yang dominan tersebut akan menjadi hukumnya. Jika yang mendominasi adalah yang halal, (harta)nya adalah halal, tetapi bila yang mendominasi adalah yang haram, (harta)nya adalah haram.

Kedua, anggaplah harta itu haram, seperti (harta) pimpinan bank atau pegawai lain yang tidak berpenghasilan lain, kecuali harta yang haram ini. Pertanyaan kami arahkan kepada orang seperti ini (si penanya). Jawabannya adalah bahwa siapa saja yang memakan dari makanan (orang tersebut) atau menerima hadiah (orang tersebut), hal itu dilihat kepada niatnya, (yaitu) niat orang yang memakan dan menerima hadiah. Apabila dia tidak menghendaki (apa-apa), kecuali bagian dunia dan hasil keduniaan, hal ini tidak diperbolehkan. (Namun), Apabila yang dia kehendaki adalah sebagai perantara dan wasilah untuk menyampaikan nasihat agar orang tersebut memperbaiki pekerjaannya, hal tersebut adalah perkarah yang diperbolehkan karena (adanya) maslahat yang hendak dicapai. Kita mengetahui bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memakan dari makanan kaum musyrikin selama tidak ada hal yang haram secara syara`. (Juga) beliau memakan dari makanan Ahlul Kitab. Kisah perempuan Yahudi yang menyuguhkan lengan kambing untuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, padahal (perempuan) itu telah menyelipkan racun pada (kambing) itu (juga) merupakan (kisah) yang dimaklumi. Kisah tersebut shahih. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak membersihkan dirinya dari memakan makanan perempuan Yahudi ini. Kalau demikian, apabila seorang muslim makan dari makanan orang yang berpenghasilan haram, dan yang dikehendaki (oleh muslim tersebut) bukanlah harta, tetapi pendekatan kepada orang ini, itu bertujuan mendekatkannya kepada amar ma’ruf dan nahi mungkar.

[Silsilah Al-Hudâ Wan Nur, kaset no. 428]

[1] Ahkâm Al-Mal Al-Haram hal. 40-43 karya Dr. ‘Abbâs Al-Bâz, Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah pada pembahasan “Kasb” dan pembahasan “Mâl”, serta Majmû’ Fatâwâ Wa Rasâ`il Ibnu ‘Utsaimin 10/937-938.

[2] Sebagaimana yang tersebut dalam Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 138 karya Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullâh.

[3] Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 138.

[4] Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 137.

[5] Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidy, An-Nasâ`iy, Al-Hâkim, dan selainnya dari Al-Hasan bin Ali hafizhahullâh.

[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari An-Nu’mân bin Al-Basyîr radhiyallâhu ‘anhu.

[7] Diriwayatkan oleh Muslim dari An-Nawwas bin As-Sim’ân radhiyallâhu ‘anhu

KETIKA ORANG TUA BERCERAI, ANAK IKUT SIAPA?

Tanya:

Bismillah, seseorang yang telah bercerai dan memiliki anak perempuan maka si anak sebaiknya ikut siapa? Kalau tidak salah ana pernah dengar ada fatwa yang mewajibkan si anak ikut bapaknya apakah benar? Atau ada silang pendapat? Dan bagaimana jika dari pihak bapak ditakutkan akan menjauhkan si anak dengan ibunya. Mohon penjelasanya secara ilmiah.

Jawab:

Bila belum menikah lagi, sang istri yang lebih berhak dalam mengasuh anaknya sepanjang anak tersebut belum berdiri sendiri. Hal ini berdasarkan sabda Nabi,

“Engkau (wahai Ibu anak) lebih berhak terhadap (anakmu) selama engkau belum menikah.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany.]

Namun perlu diketahui bahwa hukum tersebut berlaku bila sang ibu tidak membahayakan pendidikan anak. Bila membahayakan anaknya dalam hal akhlak, pendidikan dan agamanya, ayah lebih berhak untuk mengasuhnya. Bila sang anak telah baligh atau mampu untuk berdiri sendiri, dia berhak untuk ikut kepada siapa yang dia inginkan sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany. Wallahu A’lam.

KETENTUAN MENGAMBIL LABA DALAM BERDAGANG

Tanya:

Bagaimana hukumnya dalam Islam tentang pengambilan keuntungan dalam berdagang? Berapa persen keuntungan yang boleh kita dapatkan dalam penjualan barang? Adakah batasan maksimalnya? Terimakasih sebelumnya.

Jawab:

Tidak ada batasan tertentu dalam pengambilan keuntungan, karena ayat-ayat dan hadits-hadits tentang jual beli tidak menjelaskan tentang batasan tertentu dalam hal tersebut. Tapi perlu kami ingatkan bahwa dalam pengambilan keuntungan harus diperhatikan beberapa hal:
Pertama, Allah mencintai seorang muslim yang pemurah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى

“Allah merahmati seorang lelaki yang pemurah ketika membeli, ketika menjual, dan ketika melunasi.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari hadits Jâbir radhiyallâhu ‘anhumâ]
Kedua, tidak diperbolehkan melebihkan keuntungan yang bisa membahayakan orang lain. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak ada bahaya dan tidak ada pembahayaan.” [Riwayat beberapa orang shahabat. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwâ`ul Ghalîl no. 896]
Ketiga, tidak ada unsur penipuan dalam pengambilan keuntungan. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Dan siapa yang menipu kami, maka dia tidak tergolong dari kami (umat Islam).” [Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Bila seorang telah membeli barang dari seorang penjual, kemudian tampak bahwa barang tersebut

di kalangan kebanyakan penjual tidak wajar, sang pembeli memiliki hak untuk

mengembalikannya. Hal ini adalah hak khiyar yang dijelaskan dalam banyak dalil.

Kesimpulan jawaban di atas kami bahasakan dari fatwa Al-Lajnah Ad-Dâ`imah 13-91-92.

dijawab oleh Ustadz Dzulkarnain sebagaimana dimuat dalam website beliau

IKHTILAT DALAM KULIAH

Bookmark and Share

Tanya:

Bagaimana halnya apabila ada yang kuliah di tempat ikhtilat, bagaimana kalau ada akhwat yang sengaja meninggalkan kuliahnya untuk belajar sunnah, karena dia merasa apa yang dipelajari di kampus tidak bisa sejalan dengan sunnah rasul. Tapi di sisi lain ia terbentur dengan keluarga yang masih berharap besar pada kuliahnya dengan dalih masa depan. Syukran. Mohon nasihatnya.

Jawab:

Pertama, bukanlah hal yang terlarang bagi siapa yang ingin mempelajari ilmu dunia dengan cara kuliah, selama yang dipelajari tidak bertentangan dengan syari’at atau bukan hal yang dilarang dalam syari’at.

Kedua, percampur-bauran antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah ruangan atau tempat tertentu adalah hal yang diharamkan berdasar sejumlah dalil yang dimaklumi dalam hal tersebut. Hukum keharaman ini berlaku dalam kuliah maupun selainnya.

Ketiga, masa depan seorang tidaklah ditentukan dengan hal yang melanggar syari’at. Tapi masa depan yang baik adalah seorang yang dibekali ilmu syari’at dan amalan shalih serta memiliki pengetahuan untuk meraih hal yang mencukupi kehidupan dunianya sebagai bekal akhiratnya. Seseorang tidak meraih masa depan yang baik dengan kemaksiatan kepada Allah dan menyelisihi agama-Nya.

Keempat, seorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, tidak akan ditelantarkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلَّا أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Sesungguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah kecuali Allah akan memberikan kepadamu hal yang lebih baik darinya.”

[Diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasâ`iy dalam Al-Kubrâ dari seorang shahabat badu’iy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil.]
Wallahu A’lam

Dijawab oleh ustadz Dzulkarnain sebagaimana dimuat dalam website beliau

Matan-matan Kitab Apa Saja Yang Pelu Dihafal

Disusun oleh Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al-Qaasim (Imam dan Khatib Masjid Nabawi dan Qadhi pada Mahkamah tinggi di kota Madinah)

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Sesungguhnya ilmu itu terlalu banyak untuk dapat di ketahui seluruhnya. Maka merupakan sikap seorang yang berakal untuk mengambil yang paling penting dari padanya. Adapun orang yang cerdas, maka ia akan menulis hal yang paling baik dari apa yang ia dengar, dan menghafal hal yang paling baik dari yang ia telah tulis. Lalu ia akan berkata dengan hal yang paling baik dari apa yang ia telah hafal tersebut. Dan seorang tidak akan menjadi alim tanpa menghafal matan-matan ilmu. Berkata syaikhul islam Ibnu Taimiyah: “Barangsiapa yang menghafal matan-matan, maka ia akan meraih ilmu”. Seorang tidak akan memiliki ilmu yang mendalam tanpa menghafal ushul (pokok-pokok) ilmu.

Sesungguhnya umat ini telah menjaga berbagai macam disiplin ilmu dengan penjagaan yang baik. Maka pelajarilah yang paling penting, paling wajib dan paling banyak manfaatnya dari ilmu tersebut serta hafalkanlah matan ringkas dari setiap cabang ilmu. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Hendaklah seseorang bersungguh-sungguh untuk menghafal setiap bab dari bab-bab ilmu dengan menghafal sumber asli yang berasal dari nabi صلى الله عليه وسلم”. Kemudian setelah menghafal matan ringkas tersebut, berpindahlah untuk memperdalam kitab-kitab yang lebih panjang dan detil pembahasannya. Selain itu, pelajarilah ilmu dari ahlinya yaitu seorang syaikh/ustadz yang dapat anda ambil ilmunya serta dapat anda jadikan panutan amalannya.

Berkata Muhammad bin Sirin: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu”.

Matan apakah yang sebaiknya dihafal?

Mulailah dengan menghafal Al-Quran dengan hafalan yang kuat dan sertai pula dengan mentadabburinya. Kemudian hafalkanlah matan-matan dalam ilmu Aqidah, karena dengan kemurnian aqidah maka niat kita akan lurus, hawa nafsu akan terkendali dan amalan kita akan diberkahi dan terus diingat. Kemudian hafalkanlah matan-matan dalam berbagai bidang ilmu seperti ilmu tajwid, musthalah hadits, fiqh, ushul fiqh, ilmu waris, ilmu nahwu dan sastra. Berikut akan kami sebutkan matan-matan terpenting dalam berbagai bidang ilmu tersebut:

1. Al-Qur’an: Ketika anda dalam proses menghafal Al-Quran, janganlah terbatas pada menghafal Al-Qur’an saja, namun dalam periode yang sama anda bisa juga menghafal matan-matan lainnya

2. Ilmu Tajwid: Hafalkanlah Manzhumah At-Tuhfah yang terdiri dari 61 bait syair

3. Ilmu Aqidah: Hafalkanlah secara berurutan matan-matan berikut:

a. Matan Nawaaqidhul Islam (Pembatal-pembatal keislaman)

b. Matan Qawaa’idhul Arbaa (Empat kaidah)

c. Matan Tsalatsatul Ushuul (Tiga landasan)

d. Kitaabut Tauhiid, keempat kitab ini adalah karangan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

e. Aqidah Waasithiyyah oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyyah

f. Aqidah Thahaawiyyah

4. Mustholahul Hadiits: Hafalkanlah matan Al-Baiquniyyah (البيقونية) yang terdiri dari 34 bait syair serta hafalkan juga matan Nukhbatul Fikr (نخبة الفكر) oleh Ibnu Hajar

5. Hadiits: Hafalkanlah matan hadits berikut:

a. Arbain Nawawi (الأربعون النووية)

b. Umdatul Ahkam (عمدة الأحكام)

c. Buluughul Maram (بلوغ المرام)

6. Ushul Fiqh: Hafalkanlah matan Al-Waraqat (الورقات)

7. Fiqh: Hafalkanlah dalam bidang ilmu ini:

a. Syuruuth As-sholah (شروط الصلاة) karangan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

b. Zaadul Mustaqni’ (زاد المستقنع) karangan imam Al-Hijaawi. Matan ini merupakan ringkasan dalam hukum-hukum fiqh yang mengandung berbagai macam masalah fiqh

8. Ilmu Waris: Hafalkanlah matan Ar-Rahabiyyah (الرحبية) yang terdiri dari 176 bait syair.

9. Ilmu Nahwu: Hafalkanlah matan Al-Aajuruumiyyah (الآجرومية) beserta Alfiyah Ibnu Malik (ألفية ابن مالك)

10. Sastra: hafalkanlah Syair Abu Ishaq Al-Andalusi yang terdiri dari 115 bait.

Urutan penghafalan matan-matan diatas:

Al-Qur’an, Matan Nawaaqidhul Islam, Matan Qawaa’idhul Arba’a , Matan Tsalatsatul Ushuul , At-Tuhfah Fi Tajwiid, Matan Al-Baiquniyyah, Arbain Nawawi, Kitaabut Tauhiid, matan Al-Aajuruumiyyah, Matan Syuruuth As-Sholah, Aqidah Waasithiyyah, Ar-Rahabiyyah , Nukhbatul Fikr, Umdatul Ahkam, Buluughul Maram, Zaadul Mustaqni’, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Al-Waraqat, dan Syair Abu Ishaq Al-Andalusi

Teknik menghafal matan ilmiah

– Jika matan tersebut merupakan kumpulan hadits, maka janganlah menghafal lebih dari tiga hadits setiap hari (agar tidak sulit menjaganya)

– Jika matan tersebut berbentuk prosa, maka janganlah menghafal lebih dari tiga baris setiap hari

– Jika matan tersebut berbentuk syair, maka janganlah menghafal lebih dari tiga bait setiap hari

– Hafalkan setiap potongan teks/matan dengan cara mengulanginya 20 kali sesudah waktu subuh dan juga setelah waktu ashar

– Jika anda sedang menghafal – sebagai contoh – Alfiyah Ibnu Malik, maka sebelum anda menghafal bait yang baru, bacalah bait yang telah anda hafal pada hari sebelumnya sebanyak 20 kali. Kemudian bacalah – menggunakan hafalan/tanpa teks – dari awal matan Alfiyah sampai kepada bait baru yang hendak dihafal. Demikianlah ulangi cara ini setiap hari sampai hafalan anda kuat

– Tempuhlah jalan ini dalam menghafal setiap matan sambil terus mempelajari ilmu agama, menghadiri majelis-majelis ulama/ustad serta menanyakan masalah-masalah ilmiah yang membingungkan anda kepada ahlinya

– Pengulangan hafalan merupakan jalan paling utama untuk menjaga hafalan. Cara inilah yang telah dipraktekkan oleh para ulama dari dulu hingga sekarang. Adalah Abu Ishaq Asy-Syiraazi mengulangi pelajaran sebanyak seratus kali dan adapun Al-Haraasi mengulanginya sebanyak 70 kali. Dengarkanlah kisah berikut yang menunjukkan kepada anda bahwa sedikitnya pengulangan akan membuat anda cepat melupakan hal yang telah dihafal:

o Berkata Ibnul Jauzi: Al-Hasan – yakni Ibnu Abi Bakr An-Naisaaburi – menceritakan tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran dirumahnya berkali-kali. Maka berkatalah seorang wanita tua di rumahnya: ‘Cukup, demi Allah, sesungguhnya akupun telah ikut hafal’. Maka berkatalah si faqih: ‘Ulangilah apa yang telah engkau hafal’, maka wanita tua itu mengulanginya. Setelah beberapa hari, si faqih berkata kembali: ‘Wahai wanita tua, ulangilah pelajaran yang waktu itu’ maka ia berkata: ‘Aku tidak hafal lagi’. Berkata si faqih: ‘Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan)’

Maka kesimpulannya, jalan untuk mendapatkan hafalan yang mendalam adalah dengan rajin melakukan pengulangan.

Bagaimana cara muraja’ah/pengulangan hafalan matan ilmiah?

Jika anda telah menghafal berbagai matan-matan ilmiah, maka lakukanlah muraja’ah/pengulangan seluruh matan yang telah dihafal sekali dalam sebulan. Hal ini agar anda mendapatkan hafalan yang lebih dalam dan lebih tepat serta anda lebih cepat dalam pengambilan dalil dengannya.

sumber http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=25080

Hukum Penyuluhan Kesehatan Dengan Menggunakan Gambar

kesehatanPertanyaan

Bagaimana hukumnya memberi penyuluhan/pengajaran tentang kesehatan reproduksi disertai dengan gambar-gambar alat reproduksi, termasuk alat kelamin (gambar-gambar adalah gambar ilustrasi, bukan foto)?

Jazâkumullâhu khairan.

 

Jawaban (dijawab oleh ustadz Dzulqarnain sebagaimana ditulis dalam website beliau)

Untuk pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan:

Pertama, memelihara aurat adalah bagian dari sifat orang-orang yang beriman. Menampakkan aurat kepada siapa saja yang tidak dihalalkan bagi seseorang adalah haram. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tiada terceIa dalam hal ini. Barangsiapa yang mencari sesuatu di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Mu`minûn: 5-7]

Kedua, segala pintu, yang mengantar kepada hal yang diharamkan, hukumnya juga adalah haram. Hal ini berdasarkan ketentuan kaidah “saddu dzari’ah” yang ditunjukkan oleh banyak dalil dari Al-Quran dan Sunnah. Di antara dalil tersebut adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ.

“Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” [Al-An’âm: 108]

Mencela sesembahan kaum musyrikin adalah sebuah kemashlahatan. Namun, tatkala hal tersebut bisa mengantar kepada hal yang diharamkan, Allah mengharamkannya dalam nash ayat di atas.

Ketiga, segala hal, yang diharamkan karena “saddu dzari’ah”, diperbolehkan pada saat terdapat keadaan darurat yang mengharuskannya sehingga hal tersebut diperbolehkan sesuai dengan kadar keperluan. Hal ini berdasarkan sejumlah dalil, di antaranya adalah bahwa memandang perempuan yang bukan mahram adalah haram. Namun, hal tersebut diperbolehkan untuk seorang lelaki yang meminang seorang perempuan sebagaimana yang dijelaskan dalam sejumlah hadits.

Keempat, berdasarkan tiga keterangan di atas, memberi penyuluhan atau pengajaran tentang kesehatan reproduksi disertai dengan gambar-gambar alat reproduksi, termasuk alat kelamin, adalah hal yang tidak diperbolehkan, kecuali dalam kondisi darurat yang mengharuskan hal tersebut. Dimaklumi bahwa seseorang sangat memungkinkan untuk memberi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi tanpa disertai dengan gambar-gambar. Wallahu A’lam.

Wanita Telepon Dengan Bukan Mahrom

Bookmark and Share
telepon

Tanya:

Bagaimana hukumnya menerima telepon dari lawan jenis yang bukan mahram?

Jawab oleh Ust. Dzulqarnain diambil dari website beliau Dzulqarnain.net)

Suara perempuan bukanlah aurat, tetapi yang dilarang adalah melembutkan suara sebagaimana dalam firman-Nya,

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” [Al-Ahzâb: 32]

Telah sah dalam sejumlah hadits bahwa para perempuan shahabat langsung kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Tidak mengapa seorang perempuan menerima telepon dari lawan jenis yang bukan mahram bila ada keperluan yang, menurut agama, diperbolehkan.

Jual Beli Kredit Dengan Perusahaan Leasing

Tanya:

Mau tanya ustadz, ada seseorang berbisnis jual beli mobil, terus ada calon konsumen berniat membeli mobilnya dengan cara kredit. Apa hukumnya jikalau penjual memproses pembelian kreditnya dengan perusahaan leasing. Di mana perusahaan leasing membayarkan cash kepada penjual, dan menjual kredit kepada pembeli.

Jawab: (oleh Ust. Dzulqarnain diambil dari website beliau Dzulqarnain.net)

Pertama, perusahaan leasing boleh menjadi pihak pemodal dan menjual secara cicil berdasarkan tiga syarat:

  1. Akad cicil diadakan setelah perusahaan leasing membeli mobil dan memasukkan mobil itu ke dalam gudang kepemilikannya.
  2. Bila pemesan barang batal membeli/mencicil, pihak leasing tidak boleh memaksa pemesan untuk membeli/mencicil.
  3. Kerusakan/perugian, yang terjadi sebelum akad, ditanggung oleh pihak leasing.

Kedua, kalau pihak leasing tidak memiliki kriteria di atas, penjual mobil tidak boleh tolong menolong dalam dosa dan hal yang diharamkan, dalam bentuk menghubungkan pembeli dengan pihak leasing.

Tiada masalah bila si penjual menjual mobilnya kepada pembeli yang datang membeli secara tunai (baik pembeli itu berhubungan dengan leasing maupun tidak), selama penjual tidak memiliki andil dalam hubungan antara pembeli dan pihak leasing.